Girls, pernah nggak sih kamu mendengarkan perkataan ini dari orang tuamu “Gitu aja kok nggak bisa!” atau mendapatkan respon “Harusnya lo bersyukur. Gue mah pernah lebih parah dari itu!” dari temanmu, disaat kamu bercerita kalau kamu lagi capek. Mendapatkan Toxic Positivity quotes seperti itu rasanya pasti nggak enak banget.
Saat suasana hati lagi nggak baik, bukannya diberikan respon yang menyenangkan, orang terdekat kita ini justru berpotensi menyakiti dan menjatuhkan kita. Padahal, kita yang lagi lemah ini cuma butuh didengarkan aja kok.
Selalu memiliki pikiran dan perkataan yang positif memang bikin kita jadi semangat dan kuat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Namun, kalau terus memaksakan diri untuk positif di setiap hal dan waktu, hati-hati, bisa jadi itu merupakan bentuk respon Toxic Positivity.
Mengenal Toxic Positivity
Toxic positivity adalah respon negatif yang diberikan seseorang untuk memaksa orang lain bersikap selalu positif. Respon negatif ini justru menimbulkan pertanyaan yang besar kepada lawan bicaranya “Dia ini beneran mendengarkan ceritaku atau justru merendahkanku sih?”
Ciri-Ciri Toxic Positivity
Respon buruk dari toxic positivity akan terdengar sangat berlebihan dan justru nggak membantu menyelesaikan masalah. Kenali beberapa ciri-ciri toxic positivity berikut
-
Menutupi Kondisimu yang Sebenarnya
Mereka memang mendengarkan cerita yang kamu alami. Namun, mereka nggak memahami. Mereka hanya mendengar dan merespon, tanpa menggunakan empati di dalam komunikasi. Jadi, kalimat yang keluar justru hanya berupa respon dari hal yang kamu alami, tapi nggak berfokus membantumu menyelesaikan masalahmu. Misalnya..
“Aduh, ini sih masih belum seberapa”
“Semua orang juga lagi capek. Nggak kamu doang”
“Dia aja bisa, pasti kamu juga bisa lah”
-
Memaksakan diri untuk selalu Menjadi Pihak yang Positif
Adakalanya nggak papa untuk seseorang merasakan kesedihan, kegagalan, bahkan untuk menangis. Menangis sendiri merupakan hak segala gender kok! Slogan “Positive Vibes Only” yang sering kita dengar juga nggak selalu berarti baik. Nggak papa kalau kita lagi down, gagal, hingga menangis. Toh kalau ada masalah atau kegagalan, kita jadi belajar untuk lebih baik kan!
Yuk sama-sama belajar untuk menerima keadaan, merasakan perasaan, dan mampu bertahan melewati masalahnya. Kalau kamu menerimanya dulu, maka kamu akan mampu melewatinya. Jadi nggak perlu memaksakan diri untuk harus selalu bersikap positif ya!
-
Nggak Bertumbuh, Justru jadi Menyebalkan
Belajar dari kegagalan itu perlu kan, Girls? Kalau kamu nggak menerima kegagalan, maka kamu nggak akan bertumbuh. Kamu nggak belajar menghadapi masalah dengan baik kalau kamu selalu memaksakan diri untuk bersikap positif. Kalau dibiarkan terus menerus, kamu nggak akan belajar untuk menjadi dewasa.
-
Memberikan Ucapan “Nyinyir” Disekitarnya
Mereka yang memiliki kebiasaan untuk melakukan toxic positivity, biasanya memiliki aura yang buruk. Alasannya tentu karena ucapan nyinyir yang mereka berikan. Hadirnya mereka bikin orang lain nggak nyaman, risih, atau justru ikut kesal! Dari omongan mereka yang kurang baik ini akan menjadikan orang lain nggak betah untuk berkomunikasi dengannya.
Menyebalkan banget ya kalau ada orang yang suka menebarkan toxic positivity ini kepada kita. Semoga kita nggak memiliki teman, keluarga, dan pasangan yang seperti ini ya, Girls. Selain itu, jangan lupa untuk senantiasa menjadi teman yang baik bagi semua orang, agar kamu terhindar dari toxic positivity ini.